<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Ciri Suami Selingkuh</title>
	<atom:link href="http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh</link>
	<description>Sebuah Blog dari Bintang yang mempunyai motto : sekali mengibarkan bendera BAJAK LAUT maka tidak ada hal yang tidak mungkin</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 11:57:13 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Farid</title>
		<link>http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh#comment-30642</link>
		<dc:creator>Farid</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 17:26:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogbintang.com/?p=375#comment-30642</guid>
		<description>namun saat itu, Riana, sekretaris Susan memintaku datang ke ruangan Susan 15 menit lagi. ada perlu katanya. akhirnya mau nggak mau aku nunggu di kantor hingga 15 menit kemudian. membayangkan selama seperempat jam aku bengong nggak karuan, akhirnya aku buka koleksi blue film di notebookku. aku nggak munafik. aku penggemar bokep sejak lama, sewaktu aku kuliah S1 dulu. koleksi bokepku cukup lengkap dengan 300 judul, dalam bentuk DVD/CD dan flv/mp 4 dari berbagai bangsa, asia/jepang, thailand, filipina dan barat, rusia, brazil, dengan topik utama tak jauh dari hardcore, anal, oral, mandi kucing, pesta seks dan gangbang/threesome. syukurlah, meskipun aku doyan blue film, aku bisa mempertahankan keperjakaanku hingga menikah.

karena keasyikan menonton adegan bokep di notebookku, aku lupa dengan pesan Riana tadi. aku baru sadar saat Susan meneleponku dengan nada marah. sadarlah aku, aku keasyikan dengan bokepku hingga tanpa sadar 30 menit sudah aku menontonnya di ruangan kerjaku yang sunyi ini.
Kantor sudah sepi saat aku berjalan ke ruangan Susan. Pikiranku masih terbelah antara Susan dengan film bokep yang tadi kutonton itu. Namun angan-angan kotorku langsung lenyap saat Susan menyambutku dengan makian. Aku kaget. Tak biasanya Susan semarah itu. Apalagi dia mengungkit-ungkit tentang suatu kesalahan yang aku tak pernah melakukannya. Tentang kesalahanku dalam bernegoisasi dengan pihak pembeli dari Singapura 4 bulan yang lalu. Memang kantorku kena 100 juta dalam transaksi itu. Namun itu bukan salahku, melainkan salah tim negoisasi Susan yang lupa mencocokkan rate USD saat itu dengan rate USD yang sudah mereka anggarkan. Kalau tidak salah, yang dianggarkan sekian ribu USD sedangkan USD yang dijual di pasaran justru lebih rendah. Jadilah rugi perusahaan kami. membuat tim nego itu dipecat semuanya oleh Susan.

Tentu saja aku tak terima dengan tuduhan tak berdasar itu. Meskipun tim nego itu ada di bawah departemenku saat itu, tapi bukan aku yang menjadi penanggungjawabnya karena saat itu aku sedang sibuk bernegoisasi dengan pembeli dari Jepang, dan sedang ke Jepang. Namun Susan tetap mengotot, hingga akhirnya kami bertengkar di ruangan itu agak lama. Ujung-ujungnya Susan memintaku untuk membuka pakaianku. Membuatku heran juga kaget. Kenapa aku yang tidak salah, disuruh mengakui kesalahan orang, pakai aksi buka baju lagi? namun Susan tetap mengotot, hingga akhirnya mau tak mau kulucuti juga pakaianku.

Awalnya aku hanya membuka kemejaku saja, tapi Susan terus menuntut untuk melucuti seluruh pakaianku hingga bugil. Nah dari sinilah akhirnya aku paham arah instruksi Susan itu. Aku yang masih dalam pengaruh video porno itu 
menyambut keinginan Susan itu dengan senang hati. Aku tidak sekedar membuka pakaianku saja, tapi juga membukanya dengan meliuk-liukkan tubuhku dengan gerakan erotis, mirip penari nakal yang ada di film-film itu. Membuat Susan kembang kempis nafasnya.

Giliranku bugil, aku segera mendekati Susan dan mulai mencium, meraba dan meremas tubuh wanita itu. Susan menyambutnya dengan liar dan bernafsu. Tahulah aku kalau wanita itu memang sudah menantikannya sejak lama, bercinta denganku. Jadilah sore itu kami bergelut saling memanjakan nafsu kami dengan berlomba memberikan kepuasan. Kami melakukan hubungan haram itu dalam berbagai gaya dan tempat diakhiri dengan ejakulasi dahsyat di wajahnya yang cantik. Sungguh suatu permainan seks yang tiada duanya, meskipun itu adalah selingkuh perdanaku. Suatu pengalaman erotis yang sukar dilupakan hingga kini.

Aku tergila-gila dengan kemampuan oralnya, legitnya  lubang nikmatnya, teknik ngebornya, dan tentu saja keindahan tubuhnya. Meskipun usianya sudah kepala 4, tapi tubuhnya tidak kalah dengan tubuh para model majalah kebugaran. Tinggi, langsing, dan padat (sintal) dengan ukuran payudara yang besar, ranum dan mengkal, tidak turun seperti payudara para wanita seusianya. Sedangkan dia tergila-gila dengan kemampuan oralku dan keperkasaanku, dan tentu saja dengan kekekaran tubuhku yang mirip model kebugaran Ian Lauer.

Bersama Susan, aku tak hanya mendapatkan kepuasan sekual secara konvensional saja, tapi juga multi dimensional. Susan tidak hanya kreatif dan inovatif dalam hal bisnis saja tapi juga dalam hal bercinta. Dia mengajariku teknik-teknik bercinta yang baru, yang sering hadir dalam setiap khayalan seksualku, yang adegannya ada dalam setiap koleksi blue filmku dan yang mustahil kupraktekkan dengan Fatima istriku tercinta, seperti oral-anal- threesome-orgy party-mandi kucing, bersama dengan para relasi bisnisnya yang lain, wanita-wanita kaya, yang cantik, seksi dan binal. 

Hubungan gelapku dengan Susan masih berlangsung hingga kini. Meskipun kami sudah jarang melakukannya karena aku tinggal di lain kota di propinsi yang berbeda dengan keluargaku, sebagai konsekuensi diangkatnya aku sebagai direktur cabang di lain kota. Sebagai gantinya, akulah yang kini aktif mengadakan acara-acara nakal itu bersama teman-temanku lainya, sesama pengusaha muda yang hobi ngeseks. Sekian.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>namun saat itu, Riana, sekretaris Susan memintaku datang ke ruangan Susan 15 menit lagi. ada perlu katanya. akhirnya mau nggak mau aku nunggu di kantor hingga 15 menit kemudian. membayangkan selama seperempat jam aku bengong nggak karuan, akhirnya aku buka koleksi blue film di notebookku. aku nggak munafik. aku penggemar bokep sejak lama, sewaktu aku kuliah S1 dulu. koleksi bokepku cukup lengkap dengan 300 judul, dalam bentuk DVD/CD dan flv/mp 4 dari berbagai bangsa, asia/jepang, thailand, filipina dan barat, rusia, brazil, dengan topik utama tak jauh dari hardcore, anal, oral, mandi kucing, pesta seks dan gangbang/threesome. syukurlah, meskipun aku doyan blue film, aku bisa mempertahankan keperjakaanku hingga menikah.</p>
<p>karena keasyikan menonton adegan bokep di notebookku, aku lupa dengan pesan Riana tadi. aku baru sadar saat Susan meneleponku dengan nada marah. sadarlah aku, aku keasyikan dengan bokepku hingga tanpa sadar 30 menit sudah aku menontonnya di ruangan kerjaku yang sunyi ini.<br />
Kantor sudah sepi saat aku berjalan ke ruangan Susan. Pikiranku masih terbelah antara Susan dengan film bokep yang tadi kutonton itu. Namun angan-angan kotorku langsung lenyap saat Susan menyambutku dengan makian. Aku kaget. Tak biasanya Susan semarah itu. Apalagi dia mengungkit-ungkit tentang suatu kesalahan yang aku tak pernah melakukannya. Tentang kesalahanku dalam bernegoisasi dengan pihak pembeli dari Singapura 4 bulan yang lalu. Memang kantorku kena 100 juta dalam transaksi itu. Namun itu bukan salahku, melainkan salah tim negoisasi Susan yang lupa mencocokkan rate USD saat itu dengan rate USD yang sudah mereka anggarkan. Kalau tidak salah, yang dianggarkan sekian ribu USD sedangkan USD yang dijual di pasaran justru lebih rendah. Jadilah rugi perusahaan kami. membuat tim nego itu dipecat semuanya oleh Susan.</p>
<p>Tentu saja aku tak terima dengan tuduhan tak berdasar itu. Meskipun tim nego itu ada di bawah departemenku saat itu, tapi bukan aku yang menjadi penanggungjawabnya karena saat itu aku sedang sibuk bernegoisasi dengan pembeli dari Jepang, dan sedang ke Jepang. Namun Susan tetap mengotot, hingga akhirnya kami bertengkar di ruangan itu agak lama. Ujung-ujungnya Susan memintaku untuk membuka pakaianku. Membuatku heran juga kaget. Kenapa aku yang tidak salah, disuruh mengakui kesalahan orang, pakai aksi buka baju lagi? namun Susan tetap mengotot, hingga akhirnya mau tak mau kulucuti juga pakaianku.</p>
<p>Awalnya aku hanya membuka kemejaku saja, tapi Susan terus menuntut untuk melucuti seluruh pakaianku hingga bugil. Nah dari sinilah akhirnya aku paham arah instruksi Susan itu. Aku yang masih dalam pengaruh video porno itu<br />
menyambut keinginan Susan itu dengan senang hati. Aku tidak sekedar membuka pakaianku saja, tapi juga membukanya dengan meliuk-liukkan tubuhku dengan gerakan erotis, mirip penari nakal yang ada di film-film itu. Membuat Susan kembang kempis nafasnya.</p>
<p>Giliranku bugil, aku segera mendekati Susan dan mulai mencium, meraba dan meremas tubuh wanita itu. Susan menyambutnya dengan liar dan bernafsu. Tahulah aku kalau wanita itu memang sudah menantikannya sejak lama, bercinta denganku. Jadilah sore itu kami bergelut saling memanjakan nafsu kami dengan berlomba memberikan kepuasan. Kami melakukan hubungan haram itu dalam berbagai gaya dan tempat diakhiri dengan ejakulasi dahsyat di wajahnya yang cantik. Sungguh suatu permainan seks yang tiada duanya, meskipun itu adalah selingkuh perdanaku. Suatu pengalaman erotis yang sukar dilupakan hingga kini.</p>
<p>Aku tergila-gila dengan kemampuan oralnya, legitnya  lubang nikmatnya, teknik ngebornya, dan tentu saja keindahan tubuhnya. Meskipun usianya sudah kepala 4, tapi tubuhnya tidak kalah dengan tubuh para model majalah kebugaran. Tinggi, langsing, dan padat (sintal) dengan ukuran payudara yang besar, ranum dan mengkal, tidak turun seperti payudara para wanita seusianya. Sedangkan dia tergila-gila dengan kemampuan oralku dan keperkasaanku, dan tentu saja dengan kekekaran tubuhku yang mirip model kebugaran Ian Lauer.</p>
<p>Bersama Susan, aku tak hanya mendapatkan kepuasan sekual secara konvensional saja, tapi juga multi dimensional. Susan tidak hanya kreatif dan inovatif dalam hal bisnis saja tapi juga dalam hal bercinta. Dia mengajariku teknik-teknik bercinta yang baru, yang sering hadir dalam setiap khayalan seksualku, yang adegannya ada dalam setiap koleksi blue filmku dan yang mustahil kupraktekkan dengan Fatima istriku tercinta, seperti oral-anal- threesome-orgy party-mandi kucing, bersama dengan para relasi bisnisnya yang lain, wanita-wanita kaya, yang cantik, seksi dan binal. </p>
<p>Hubungan gelapku dengan Susan masih berlangsung hingga kini. Meskipun kami sudah jarang melakukannya karena aku tinggal di lain kota di propinsi yang berbeda dengan keluargaku, sebagai konsekuensi diangkatnya aku sebagai direktur cabang di lain kota. Sebagai gantinya, akulah yang kini aktif mengadakan acara-acara nakal itu bersama teman-temanku lainya, sesama pengusaha muda yang hobi ngeseks. Sekian.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Farid</title>
		<link>http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh#comment-28865</link>
		<dc:creator>Farid</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 17:00:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogbintang.com/?p=375#comment-28865</guid>
		<description>EDIT YANG LALU...

Sebenarnya ini adalah aib pribadiku, tapi nggak apa2lah aku ceritakan kepada pembaca semuanya. mudah2an ada hikmahnya...

aku menikahi fatima di usia 25 tahun. dia sendiri 20 tahun. kami kuliah di fakultas yang sama, fakultas ilmu ekonomi di sebuah PTN ternama di Malaysia, hanya saja beda stratanya. aku kuliah S2 waktu itu dan Fatima baru menginjak tahun kedua kuliahnya di sana. bedanya aku kuliah di sana karena beasiswa, fatima biaya sendiri (karena dia anak orang kaya).

aku naksir Fatima bukan karena kekayaan dan kecantikannya, melainkan karena orangnya baik hati, rendah hati dan murah hati. meskipun ayahnya kaya raya-seorang pengusaha sukses ala Makassar, tapi dia nggak sombong dan pelit. selain itu otaknya juga cerdas dan tubuhnya juga oke punya, tanda orangnya hobi berolahraga.

cintaku kepada Fatima tak bertepuk sebelah tangan, karena dia juga suka denganku, yang katanya jauh berbeda dengan pemuda2 saat ini dalam hal karakter. jadilah kami menikah, meskipun perbedaan status kami sangat mencolok. anak seorang keluarga konglomerat dengan anak keluarga dosen sederhana dengan seorang guru SMA swasta di Bandung.

sayangnya pas usia perkawinan kami menjelang 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. jadilah Fatima yatim-piatu. memang waktu kami menikah dulu, ibu kandung Fatima telah wafat, sedangkan Fatima masih berusia 10 tahun saat itu. 5 tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang usiaya hanya terpaut 12 tahun di atas usia Fatima.

Pak Haji Abdullah-mendiang ayah mertuaku, menikahi Susan ketika beliau berumur 41 tahun. bedanya sama sang istri, sekitar 14 tahun. cukup jauh jika dibandingkan beda usianya dengan mendiang istrinya, Hj Laila Wahidah, sekitar 6 tahun/30 tahun saat mendiang ibu mertuaku wafat.

adapun alasan Pak Haji sendiri kenapa beliau menikahi Susan, yang usianya cukup jauh darinya adalah karena beliau ingin ada yang memperhatikan anak2nya kalau beliau wafat nantinya. makanya beliau menikahi Susan, mantan sekretaris istrinya (mendiang Hj Laila juga seorang wanita pengusaha yang sukses) yang memang cukup dekat hubungannya dengan ketiga anak almarhum.

hubungan Susan dan ketiga anak Pak Haji juga mulus, Fatima, Hasan, dan Ismail. Susan memang menyayangi mereka bagaikan seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga ketika dia menjadi ibu tiri, dia bisa memasuki kehidupan anak2 mendiang suaminya dengan sukses. dalam arti, tak ada gejolak yang berarti dalam hubungannya dengan ketiga anak tirinya itu, seperti yang kita sering dengar dari cerita2 di luar sana.

sebagai janda dari seorang pengusaha kaya, tentu saja Susan hidup bergelimang harta. meskipun begitu, aku salut kepadanya, karena dia mampu mengelola kekayaan suaminya dengan baik dan benar. berkat tangan dingin dan profesionalitasnya, perusahaan suaminya menjadi tambah besar dan maju. visi dan misinya jelas, terukur dan konsisten. tak percuma dia menjadi karyawati kesayangan almh ibu mertuaku selama ini.

karena orangnya visioner itulah, Susan menyekolahkan anak2 tirinya hingga ke jenjang yang lebih tinggi di univeristas/sekolah2 ternama di LN. Fatima kuliah di Malaysia, sedangkan Hasan dan Ismail sekolah di Australia. aku sendiri dipercaya oleh Susan sebagai tangan kanannya di perusahaan. dan hubungan kami sangat profesional di kantor. hingga datanglah peristiwa itu.

tanpa sepengetahuanku sebenarnya Susan sudah lama naksir padaku. Sejak diperkenalkan Fatima untuk pertama kalinya, dia sudah terpesona denganku, yang menurutnya tipe lelaki idealnya. selain otakku yang cerdas, kepiawaianku dalam berorganisasi, dan insting bisnisku yang akurat, dia juga menyukai sosokku sebagai lelaki yang menurutnya macho.

meksipun aku tidak ganteng atau tampan, tapi aku memiliki postur tubuh yang sangat ideal untuk ukuran pemuda seumuranku, 25 tahun, tinggi, tegap, padat dan atletis. Hasil kegemaranku selama ini menekuni olahraga bela diri, renang, basket, sepak bola sejak kecil, selain tentunya olahraga binaraga yang baru kutekuni 12 tahun lalu, sejak aku kuliah S1 di Indonesia-aku memang sempat bekerja sebagai pelatih kebugaran dan bela diri untuk membiayai kuliahku dulu. raut wajahku yang keras dan tegas, menambah aura kemaskulinanku semakin kentara.

hubungan haramku dengan Susan dimulai sore itu. seperti biasa, saat kantor menunjukkan waktu jam 5 sore, para karyawan/i sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. tak terkecuali aku. aku sendiri sudah mulai membayangkan seperangkat barbel dan dumbel di benakku, suatu aktifitas rutinku selama ini setiap pulang kerja, berolahraga angkat beban di gym favoritku dekat kantor. (bersambung)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>EDIT YANG LALU&#8230;</p>
<p>Sebenarnya ini adalah aib pribadiku, tapi nggak apa2lah aku ceritakan kepada pembaca semuanya. mudah2an ada hikmahnya&#8230;</p>
<p>aku menikahi fatima di usia 25 tahun. dia sendiri 20 tahun. kami kuliah di fakultas yang sama, fakultas ilmu ekonomi di sebuah PTN ternama di Malaysia, hanya saja beda stratanya. aku kuliah S2 waktu itu dan Fatima baru menginjak tahun kedua kuliahnya di sana. bedanya aku kuliah di sana karena beasiswa, fatima biaya sendiri (karena dia anak orang kaya).</p>
<p>aku naksir Fatima bukan karena kekayaan dan kecantikannya, melainkan karena orangnya baik hati, rendah hati dan murah hati. meskipun ayahnya kaya raya-seorang pengusaha sukses ala Makassar, tapi dia nggak sombong dan pelit. selain itu otaknya juga cerdas dan tubuhnya juga oke punya, tanda orangnya hobi berolahraga.</p>
<p>cintaku kepada Fatima tak bertepuk sebelah tangan, karena dia juga suka denganku, yang katanya jauh berbeda dengan pemuda2 saat ini dalam hal karakter. jadilah kami menikah, meskipun perbedaan status kami sangat mencolok. anak seorang keluarga konglomerat dengan anak keluarga dosen sederhana dengan seorang guru SMA swasta di Bandung.</p>
<p>sayangnya pas usia perkawinan kami menjelang 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. jadilah Fatima yatim-piatu. memang waktu kami menikah dulu, ibu kandung Fatima telah wafat, sedangkan Fatima masih berusia 10 tahun saat itu. 5 tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang usiaya hanya terpaut 12 tahun di atas usia Fatima.</p>
<p>Pak Haji Abdullah-mendiang ayah mertuaku, menikahi Susan ketika beliau berumur 41 tahun. bedanya sama sang istri, sekitar 14 tahun. cukup jauh jika dibandingkan beda usianya dengan mendiang istrinya, Hj Laila Wahidah, sekitar 6 tahun/30 tahun saat mendiang ibu mertuaku wafat.</p>
<p>adapun alasan Pak Haji sendiri kenapa beliau menikahi Susan, yang usianya cukup jauh darinya adalah karena beliau ingin ada yang memperhatikan anak2nya kalau beliau wafat nantinya. makanya beliau menikahi Susan, mantan sekretaris istrinya (mendiang Hj Laila juga seorang wanita pengusaha yang sukses) yang memang cukup dekat hubungannya dengan ketiga anak almarhum.</p>
<p>hubungan Susan dan ketiga anak Pak Haji juga mulus, Fatima, Hasan, dan Ismail. Susan memang menyayangi mereka bagaikan seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga ketika dia menjadi ibu tiri, dia bisa memasuki kehidupan anak2 mendiang suaminya dengan sukses. dalam arti, tak ada gejolak yang berarti dalam hubungannya dengan ketiga anak tirinya itu, seperti yang kita sering dengar dari cerita2 di luar sana.</p>
<p>sebagai janda dari seorang pengusaha kaya, tentu saja Susan hidup bergelimang harta. meskipun begitu, aku salut kepadanya, karena dia mampu mengelola kekayaan suaminya dengan baik dan benar. berkat tangan dingin dan profesionalitasnya, perusahaan suaminya menjadi tambah besar dan maju. visi dan misinya jelas, terukur dan konsisten. tak percuma dia menjadi karyawati kesayangan almh ibu mertuaku selama ini.</p>
<p>karena orangnya visioner itulah, Susan menyekolahkan anak2 tirinya hingga ke jenjang yang lebih tinggi di univeristas/sekolah2 ternama di LN. Fatima kuliah di Malaysia, sedangkan Hasan dan Ismail sekolah di Australia. aku sendiri dipercaya oleh Susan sebagai tangan kanannya di perusahaan. dan hubungan kami sangat profesional di kantor. hingga datanglah peristiwa itu.</p>
<p>tanpa sepengetahuanku sebenarnya Susan sudah lama naksir padaku. Sejak diperkenalkan Fatima untuk pertama kalinya, dia sudah terpesona denganku, yang menurutnya tipe lelaki idealnya. selain otakku yang cerdas, kepiawaianku dalam berorganisasi, dan insting bisnisku yang akurat, dia juga menyukai sosokku sebagai lelaki yang menurutnya macho.</p>
<p>meksipun aku tidak ganteng atau tampan, tapi aku memiliki postur tubuh yang sangat ideal untuk ukuran pemuda seumuranku, 25 tahun, tinggi, tegap, padat dan atletis. Hasil kegemaranku selama ini menekuni olahraga bela diri, renang, basket, sepak bola sejak kecil, selain tentunya olahraga binaraga yang baru kutekuni 12 tahun lalu, sejak aku kuliah S1 di Indonesia-aku memang sempat bekerja sebagai pelatih kebugaran dan bela diri untuk membiayai kuliahku dulu. raut wajahku yang keras dan tegas, menambah aura kemaskulinanku semakin kentara.</p>
<p>hubungan haramku dengan Susan dimulai sore itu. seperti biasa, saat kantor menunjukkan waktu jam 5 sore, para karyawan/i sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. tak terkecuali aku. aku sendiri sudah mulai membayangkan seperangkat barbel dan dumbel di benakku, suatu aktifitas rutinku selama ini setiap pulang kerja, berolahraga angkat beban di gym favoritku dekat kantor. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Farid</title>
		<link>http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh#comment-28864</link>
		<dc:creator>Farid</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 17:00:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogbintang.com/?p=375#comment-28864</guid>
		<description>EDIT YANG LALU...

Sebenarnya ini adalah aib pribadiku, tapi nggak apa2lah aku ceritakan kepada pembaca semuanya. mudah2an ada hikmahnya...

aku menikahi fatima di usia 25 tahun. dia sendiri 20 tahun. kami kuliah di fakultas yang sama, fakultas ilmu ekonomi di sebuah PTN ternama di Malaysia, hanya saja beda stratanya. aku kuliah S2 waktu itu dan Fatima baru menginjak tahun kedua kuliahnya di sana. bedanya aku kuliah di sana karena beasiswa, fatima biaya sendiri (karena dia anak orang kaya).

aku naksir Fatima bukan karena kekayaan dan kecantikannya, melainkan karena orangnya baik hati, rendah hati dan murah hati. meskipun ayahnya kaya raya-seorang pengusaha sukses ala Makassar, tapi dia nggak sombong dan pelit. selain itu otaknya juga cerdas dan tubuhnya juga oke punya, tanda orangnya hobi berolahraga.

cintaku kepada Fatima tak bertepuk sebelah tangan, karena dia juga suka denganku, yang katanya jauh berbeda dengan pemuda2 saat ini dalam hal karakter. jadilah kami menikah, meskipun perbedaan status kami sangat mencolok. anak seorang keluarga konglomerat dengan anak keluarga dosen sederhana dengan seorang guru SMA swasta di Bandung.

sayangnya pas usia perkawinan kami menjelang 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. jadilah Fatima yatim-piatu. memang waktu kami menikah dulu, ibu kandung Fatima telah wafat, sedangkan Fatima masih berusia 10 tahun saat itu. 5 tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang usiaya hanya terpaut 12 tahun di atas usia Fatima.

Pak Haji Abdullah-mendiang ayah mertuaku, menikahi Susan ketika beliau berumur 41 tahun. bedanya sama sang istri, sekitar 14 tahun. cukup jauh jika dibandingkan beda usianya dengan mendiang istrinya, Hj Laila Wahidah, sekitar 6 tahun/30 tahun saat mendiang ibu mertuaku wafat.

adapun alasan Pak Haji sendiri kenapa beliau menikahi Susan, yang usianya cukup jauh darinya adalah karena beliau ingin ada yang memperhatikan anak2nya kalau beliau wafat nantinya. makanya beliau menikahi Susan, mantan sekretaris istrinya (mendiang Hj Laila juga seorang wanita pengusaha yang sukses) yang memang cukup dekat hubungannya dengan ketiga anak almarhum.

hubungan Susan dan ketiga anak Pak Haji juga mulus, Fatima, Hasan, dan Ismail. Susan memang menyayangi mereka bagaikan seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga ketika dia menjadi ibu tiri, dia bisa memasuki kehidupan anak2 mendiang suaminya dengan sukses. dalam arti, tak ada gejolak yang berarti dalam hubungannya dengan ketiga anak tirinya itu, seperti yang kita sering dengar dari cerita2 di luar sana.

sebagai janda dari seorang pengusaha kaya, tentu saja Susan hidup bergelimang harta. meskipun begitu, aku salut kepadanya, karena dia mampu mengelola kekayaan suaminya dengan baik dan benar. berkat tangan dingin dan profesionalitasnya, perusahaan suaminya menjadi tambah besar dan maju. visi dan misinya jelas, terukur dan konsisten. tak percuma dia menjadi karyawati kesayangan almh ibu mertuaku selama ini.

karena orangnya visioner itulah, Susan menyekolahkan anak2 tirinya hingga ke jenjang yang lebih tinggi di univeristas/sekolah2 ternama di LN. Fatima kuliah di Malaysia, sedangkan Hasan dan Ismail sekolah di Australia. aku sendiri dipercaya oleh Susan sebagai tangan kanannya di perusahaan. dan hubungan kami sangat profesional di kantor. hingga datanglah peristiwa itu.

tanpa sepengetahuanku sebenarnya Susan sudah lama naksir padaku. Sejak diperkenalkan Fatima untuk pertama kalinya, dia sudah terpesona denganku, yang menurutnya tipe lelaki idealnya. selain otakku yang cerdas, kepiawaianku dalam berorganisasi, dan insting bisnisku yang akurat, dia juga menyukai sosokku sebagai lelaki yang menurutnya macho.

meksipun aku tidak ganteng atau tampan, tapi aku memiliki postur tubuh yang sangat ideal untuk ukuran pemuda seumuranku, 25 tahun, tinggi, tegap, padat dan atletis. Hasil kegemaranku selama ini menekuni olahraga bela diri, renang, basket, sepak bola sejak kecil, selain tentunya olahraga binaraga yang baru kutekuni 12 tahun lalu, sejak aku kuliah S1 di Indonesia-aku memang sempat bekerja sebagai pelatih kebugaran dan bela diri untuk membiayai kuliahku dulu. raut wajahku yang keras dan tegas, menambah aura kemaskulinanku semakin kentara.

hubungan haramku dengan Susan dimulai sore itu. seperti biasa, saat kantor menunjukkan waktu jam 5 sore, para karyawan/i sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. tak terkecuali aku. aku sendiri sudah mulai membayangkan seperangkat barbel dan dumbel di benakku, suatu aktifitas rutinku selama ini setiap pulang kerja, berolahraga angkat beban di gym favoritku dekat kantor. (bersambung)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>EDIT YANG LALU&#8230;</p>
<p>Sebenarnya ini adalah aib pribadiku, tapi nggak apa2lah aku ceritakan kepada pembaca semuanya. mudah2an ada hikmahnya&#8230;</p>
<p>aku menikahi fatima di usia 25 tahun. dia sendiri 20 tahun. kami kuliah di fakultas yang sama, fakultas ilmu ekonomi di sebuah PTN ternama di Malaysia, hanya saja beda stratanya. aku kuliah S2 waktu itu dan Fatima baru menginjak tahun kedua kuliahnya di sana. bedanya aku kuliah di sana karena beasiswa, fatima biaya sendiri (karena dia anak orang kaya).</p>
<p>aku naksir Fatima bukan karena kekayaan dan kecantikannya, melainkan karena orangnya baik hati, rendah hati dan murah hati. meskipun ayahnya kaya raya-seorang pengusaha sukses ala Makassar, tapi dia nggak sombong dan pelit. selain itu otaknya juga cerdas dan tubuhnya juga oke punya, tanda orangnya hobi berolahraga.</p>
<p>cintaku kepada Fatima tak bertepuk sebelah tangan, karena dia juga suka denganku, yang katanya jauh berbeda dengan pemuda2 saat ini dalam hal karakter. jadilah kami menikah, meskipun perbedaan status kami sangat mencolok. anak seorang keluarga konglomerat dengan anak keluarga dosen sederhana dengan seorang guru SMA swasta di Bandung.</p>
<p>sayangnya pas usia perkawinan kami menjelang 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. jadilah Fatima yatim-piatu. memang waktu kami menikah dulu, ibu kandung Fatima telah wafat, sedangkan Fatima masih berusia 10 tahun saat itu. 5 tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang usiaya hanya terpaut 12 tahun di atas usia Fatima.</p>
<p>Pak Haji Abdullah-mendiang ayah mertuaku, menikahi Susan ketika beliau berumur 41 tahun. bedanya sama sang istri, sekitar 14 tahun. cukup jauh jika dibandingkan beda usianya dengan mendiang istrinya, Hj Laila Wahidah, sekitar 6 tahun/30 tahun saat mendiang ibu mertuaku wafat.</p>
<p>adapun alasan Pak Haji sendiri kenapa beliau menikahi Susan, yang usianya cukup jauh darinya adalah karena beliau ingin ada yang memperhatikan anak2nya kalau beliau wafat nantinya. makanya beliau menikahi Susan, mantan sekretaris istrinya (mendiang Hj Laila juga seorang wanita pengusaha yang sukses) yang memang cukup dekat hubungannya dengan ketiga anak almarhum.</p>
<p>hubungan Susan dan ketiga anak Pak Haji juga mulus, Fatima, Hasan, dan Ismail. Susan memang menyayangi mereka bagaikan seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga ketika dia menjadi ibu tiri, dia bisa memasuki kehidupan anak2 mendiang suaminya dengan sukses. dalam arti, tak ada gejolak yang berarti dalam hubungannya dengan ketiga anak tirinya itu, seperti yang kita sering dengar dari cerita2 di luar sana.</p>
<p>sebagai janda dari seorang pengusaha kaya, tentu saja Susan hidup bergelimang harta. meskipun begitu, aku salut kepadanya, karena dia mampu mengelola kekayaan suaminya dengan baik dan benar. berkat tangan dingin dan profesionalitasnya, perusahaan suaminya menjadi tambah besar dan maju. visi dan misinya jelas, terukur dan konsisten. tak percuma dia menjadi karyawati kesayangan almh ibu mertuaku selama ini.</p>
<p>karena orangnya visioner itulah, Susan menyekolahkan anak2 tirinya hingga ke jenjang yang lebih tinggi di univeristas/sekolah2 ternama di LN. Fatima kuliah di Malaysia, sedangkan Hasan dan Ismail sekolah di Australia. aku sendiri dipercaya oleh Susan sebagai tangan kanannya di perusahaan. dan hubungan kami sangat profesional di kantor. hingga datanglah peristiwa itu.</p>
<p>tanpa sepengetahuanku sebenarnya Susan sudah lama naksir padaku. Sejak diperkenalkan Fatima untuk pertama kalinya, dia sudah terpesona denganku, yang menurutnya tipe lelaki idealnya. selain otakku yang cerdas, kepiawaianku dalam berorganisasi, dan insting bisnisku yang akurat, dia juga menyukai sosokku sebagai lelaki yang menurutnya macho.</p>
<p>meksipun aku tidak ganteng atau tampan, tapi aku memiliki postur tubuh yang sangat ideal untuk ukuran pemuda seumuranku, 25 tahun, tinggi, tegap, padat dan atletis. Hasil kegemaranku selama ini menekuni olahraga bela diri, renang, basket, sepak bola sejak kecil, selain tentunya olahraga binaraga yang baru kutekuni 12 tahun lalu, sejak aku kuliah S1 di Indonesia-aku memang sempat bekerja sebagai pelatih kebugaran dan bela diri untuk membiayai kuliahku dulu. raut wajahku yang keras dan tegas, menambah aura kemaskulinanku semakin kentara.</p>
<p>hubungan haramku dengan Susan dimulai sore itu. seperti biasa, saat kantor menunjukkan waktu jam 5 sore, para karyawan/i sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. tak terkecuali aku. aku sendiri sudah mulai membayangkan seperangkat barbel dan dumbel di benakku, suatu aktifitas rutinku selama ini setiap pulang kerja, berolahraga angkat beban di gym favoritku dekat kantor. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Farid</title>
		<link>http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh#comment-28862</link>
		<dc:creator>Farid</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 16:56:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogbintang.com/?p=375#comment-28862</guid>
		<description>Sebenarnya ini adalah aib pribadiku, tapi nggak apa2lah aku ceritakan kepada pembaca semuanya.

aku menikahi fatima di usia 25 tahun. dia sendiri 20 tahun. kami kuliah di fakultas yang sama, fakultas ilmu ekonomi di sebuah PTN ternama di Malaysia, hanya saja beda stratanya. aku kuliah S2 waktu itu dan Fatima baru menginjak tahun kedua kuliahnya di sana. bedanya aku kuliah di sana karena beasiswa, fatima biaya sendiri (karena dia anak orang kaya).

aku naksir Fatima bukan karena kekayaan dan kecantikannya, melainkan karena orangnya baik hati, rendah hati dan murah hati. meskipun ayahnya kaya raya-seorang pengusaha sukses ala Makassar, tapi dia nggak sombong dan pelit. selain itu otaknya juga cerdas dan tubuhnya juga oke punya, tanda orangnya hobi berolahraga.

cintaku kepada Fatima tak bertepuk sebelah tangan, karena dia juga suka denganku, yang katanya jauh berbeda dengan pemuda2 saat ini dalam hal karakter. jadilah kami menikah, meskipun perbedaan status kami sangat mencolok. anak seorang keluarga konglomerat dengan anak keluarga  dosen sederhana dengan seorang guru SMA swasta di Bandung.

sayangnya pas usia perkawinan kami menjelang 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. jadilah Fatima yatim-piatu. memang waktu kami menikah dulu, ibu kandung Fatima telah wafat, sedangkan Fatima masih berusia 10 tahun saat itu. 5 tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang usiaya hanya terpaut 12 tahun di atas usia Fatima.  

Pak Haji Abdullah-mendiang ayah mertuaku, menikahi Susan ketika beliau berumur 41 tahun. bedanya sama sang istri, sekitar 14 tahun. cukup jauh jika dibandingkan beda usianya dengan mendiang istrinya, Hj Laila Wahidah, sekitar 6 tahun/30 tahun saat mendiang ibu mertuaku wafat. 

adapun alasan Pak Haji sendiri kenapa beliau menikahi Susan, yang usianya cukup jauh darinya adalah karena beliau ingin ada yang memperhatikan anak2nya kalau beliau wafat nantinya. makanya beliau menikahi Susan, mantan sekretaris istrinya (mendiang Hj Laila juga seorang wanita pengusaha yang sukses) yang memang cukup dekat hubungannya dengan ketiga anak almarhum.

hubungan Susan dan ketiga anak Pak Haji juga mulus, Fatima, Hasan, dan Ismail. Susan memang menyayangi mereka bagaikan seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga ketika dia menjadi ibu tiri, dia bisa memasuki kehidupan anak2 mendiang suaminya dengan sukses. dalam arti, tak ada gejolak yang berarti dalam hubungannya dengan ketiga anak tirinya itu, seperti yang kita sering dengar dari cerita2 di luar sana.

sebagai janda dari seorang pengusaha kaya, tentu saja Susan hidup bergelimang harta. meskipun begitu, aku salut kepadanya, karena dia mampu mengelola kekayaan suaminya dengan baik dan benar. berkat tangan dingin dan profesionalitasnya, perusahaan suaminya menjadi tambah besar dan maju. visi dan misinya jelas, terukur dan konsisten. tak percuma dia menjadi karyawati kesayangan almh ibu mertuaku selama ini. 

karena orangnya visioner itulah, Susan menyekolahkan anak2 tirinya hingga ke jenjang yang lebih tinggi di univeristas/sekolah2 ternama di LN. Fatima kuliah di Malaysia, sedangkan Hasan dan Ismail sekolah di Australia. aku sendiri dipercaya oleh Susan sebagai tangan kanannya di perusahaan. dan hubungan kami sangat profesional di kantor. hingga datanglah peristiwa itu.

tanpa sepengetahuanku sebenarnya Susan sudah lama naksir padaku. Sejak diperkenalkan Fatima untuk pertama kalinya, dia sudah terpesona denganku, yang menurutnya tipe lelaki idealnya. selain otakku yang cerdas, kepiawaianku dalam berorganisasi, dan insting bisnisku yang akurat, dia juga menyukai sosokku sebagai lelaki yang menurutnya macho.

meksipun aku tidak ganteng atau tampan, tapi aku memiliki postur tubuh yang sangat ideal untuk ukuran pemuda seumuranku, tinggi, tegap, padat dan atletis. Hasil kegemaranku selama ini menekuni olahraga bela diri, renang, basket, sepak bola sejak kecil, selain tentunya olahraga binaraga yang baru kutekuni 12 tahun lalu, sejak aku kuliah S1 di Indonesia-aku memang sempat bekerja sebagai pelatih kebugaran dan bela diri untuk membiayai kuliahku dulu. raut wajahku yang keras dan tegas, menambah aura kemaskulinanku semakin kentara.

hubungan haramku dengan Susan dimulai sore itu. seperti biasa, saat kantor menunjukkan waktu jam 5 sore, para karyawan/i sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. tak terkecuali aku. aku sendiri sudah mulai membayangkan seperangkat barbel dan dumbel di benakku, suatu aktifitas rutinku selama ini setiap pulang kerja, berolahraga angkat beban di gym favoritku dekat kantor. (bersambung)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini adalah aib pribadiku, tapi nggak apa2lah aku ceritakan kepada pembaca semuanya.</p>
<p>aku menikahi fatima di usia 25 tahun. dia sendiri 20 tahun. kami kuliah di fakultas yang sama, fakultas ilmu ekonomi di sebuah PTN ternama di Malaysia, hanya saja beda stratanya. aku kuliah S2 waktu itu dan Fatima baru menginjak tahun kedua kuliahnya di sana. bedanya aku kuliah di sana karena beasiswa, fatima biaya sendiri (karena dia anak orang kaya).</p>
<p>aku naksir Fatima bukan karena kekayaan dan kecantikannya, melainkan karena orangnya baik hati, rendah hati dan murah hati. meskipun ayahnya kaya raya-seorang pengusaha sukses ala Makassar, tapi dia nggak sombong dan pelit. selain itu otaknya juga cerdas dan tubuhnya juga oke punya, tanda orangnya hobi berolahraga.</p>
<p>cintaku kepada Fatima tak bertepuk sebelah tangan, karena dia juga suka denganku, yang katanya jauh berbeda dengan pemuda2 saat ini dalam hal karakter. jadilah kami menikah, meskipun perbedaan status kami sangat mencolok. anak seorang keluarga konglomerat dengan anak keluarga  dosen sederhana dengan seorang guru SMA swasta di Bandung.</p>
<p>sayangnya pas usia perkawinan kami menjelang 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. jadilah Fatima yatim-piatu. memang waktu kami menikah dulu, ibu kandung Fatima telah wafat, sedangkan Fatima masih berusia 10 tahun saat itu. 5 tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang usiaya hanya terpaut 12 tahun di atas usia Fatima.  </p>
<p>Pak Haji Abdullah-mendiang ayah mertuaku, menikahi Susan ketika beliau berumur 41 tahun. bedanya sama sang istri, sekitar 14 tahun. cukup jauh jika dibandingkan beda usianya dengan mendiang istrinya, Hj Laila Wahidah, sekitar 6 tahun/30 tahun saat mendiang ibu mertuaku wafat. </p>
<p>adapun alasan Pak Haji sendiri kenapa beliau menikahi Susan, yang usianya cukup jauh darinya adalah karena beliau ingin ada yang memperhatikan anak2nya kalau beliau wafat nantinya. makanya beliau menikahi Susan, mantan sekretaris istrinya (mendiang Hj Laila juga seorang wanita pengusaha yang sukses) yang memang cukup dekat hubungannya dengan ketiga anak almarhum.</p>
<p>hubungan Susan dan ketiga anak Pak Haji juga mulus, Fatima, Hasan, dan Ismail. Susan memang menyayangi mereka bagaikan seorang kakak kepada adik-adiknya, sehingga ketika dia menjadi ibu tiri, dia bisa memasuki kehidupan anak2 mendiang suaminya dengan sukses. dalam arti, tak ada gejolak yang berarti dalam hubungannya dengan ketiga anak tirinya itu, seperti yang kita sering dengar dari cerita2 di luar sana.</p>
<p>sebagai janda dari seorang pengusaha kaya, tentu saja Susan hidup bergelimang harta. meskipun begitu, aku salut kepadanya, karena dia mampu mengelola kekayaan suaminya dengan baik dan benar. berkat tangan dingin dan profesionalitasnya, perusahaan suaminya menjadi tambah besar dan maju. visi dan misinya jelas, terukur dan konsisten. tak percuma dia menjadi karyawati kesayangan almh ibu mertuaku selama ini. </p>
<p>karena orangnya visioner itulah, Susan menyekolahkan anak2 tirinya hingga ke jenjang yang lebih tinggi di univeristas/sekolah2 ternama di LN. Fatima kuliah di Malaysia, sedangkan Hasan dan Ismail sekolah di Australia. aku sendiri dipercaya oleh Susan sebagai tangan kanannya di perusahaan. dan hubungan kami sangat profesional di kantor. hingga datanglah peristiwa itu.</p>
<p>tanpa sepengetahuanku sebenarnya Susan sudah lama naksir padaku. Sejak diperkenalkan Fatima untuk pertama kalinya, dia sudah terpesona denganku, yang menurutnya tipe lelaki idealnya. selain otakku yang cerdas, kepiawaianku dalam berorganisasi, dan insting bisnisku yang akurat, dia juga menyukai sosokku sebagai lelaki yang menurutnya macho.</p>
<p>meksipun aku tidak ganteng atau tampan, tapi aku memiliki postur tubuh yang sangat ideal untuk ukuran pemuda seumuranku, tinggi, tegap, padat dan atletis. Hasil kegemaranku selama ini menekuni olahraga bela diri, renang, basket, sepak bola sejak kecil, selain tentunya olahraga binaraga yang baru kutekuni 12 tahun lalu, sejak aku kuliah S1 di Indonesia-aku memang sempat bekerja sebagai pelatih kebugaran dan bela diri untuk membiayai kuliahku dulu. raut wajahku yang keras dan tegas, menambah aura kemaskulinanku semakin kentara.</p>
<p>hubungan haramku dengan Susan dimulai sore itu. seperti biasa, saat kantor menunjukkan waktu jam 5 sore, para karyawan/i sudah mulai bersiap-siap untuk pulang. tak terkecuali aku. aku sendiri sudah mulai membayangkan seperangkat barbel dan dumbel di benakku, suatu aktifitas rutinku selama ini setiap pulang kerja, berolahraga angkat beban di gym favoritku dekat kantor. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: raizah</title>
		<link>http://blogbintang.com/ciri-suami-selingkuh#comment-27139</link>
		<dc:creator>raizah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 02:40:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogbintang.com/?p=375#comment-27139</guid>
		<description>knapa ya kok bnyak bgt cerita ttg suami selingkuh? apkh ga ada kejujuran lg??
aq pengen curhat. aq ga serumah dg suamiq, suamiq tgs d luar provinsi, sdgkan aq tgs d provinsi lainnya, ktika aq ambil cuti tuk menjenguk suamiq,aq menemukan sms2 keluar n sms2 masuk dr log hp suamiq untuk seorang wanita, ketika aq pengen tau isi sms2 itu, smuanya udah dihapus, ktika kutanya dia bilang hanya bicara ttg pekerjaan,d daftar log jg ada daftar telfonan mreka tengah mlm durasi 21 menit, ktika kutanya suamiq jg bilang mmbicarakan pkrjaan, hatiq merasa ada yg tdk beres, aq agak curiga tp aq ga punya cukup bukti, mlh ujung2nya klo kutanya aq yg malah dimarah. klo suamiq dr plg menjengukku n kmbali lg k tmpt tgsnya dia slalu mampir k rmh tmn wanitanya itu (suami wanita itu tgs d luar kota jg), aq protes dg sikapnya itu, tp dia slalu marah pdq, dia bilang dia ngobrol dg mertua tmn wanitanya itu (krn mertuanya tinggal d rmh tmnnya itu). aq pengen saran dr tmn2 krn aq udah pusing n mumet, ap hal ini msh d tahap wajar? apakh aq yg trlalu cemburuan? apa yg harus aq lakukan? aq skr lg bnr2 butuh bantuan, terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>knapa ya kok bnyak bgt cerita ttg suami selingkuh? apkh ga ada kejujuran lg??<br />
aq pengen curhat. aq ga serumah dg suamiq, suamiq tgs d luar provinsi, sdgkan aq tgs d provinsi lainnya, ktika aq ambil cuti tuk menjenguk suamiq,aq menemukan sms2 keluar n sms2 masuk dr log hp suamiq untuk seorang wanita, ketika aq pengen tau isi sms2 itu, smuanya udah dihapus, ktika kutanya dia bilang hanya bicara ttg pekerjaan,d daftar log jg ada daftar telfonan mreka tengah mlm durasi 21 menit, ktika kutanya suamiq jg bilang mmbicarakan pkrjaan, hatiq merasa ada yg tdk beres, aq agak curiga tp aq ga punya cukup bukti, mlh ujung2nya klo kutanya aq yg malah dimarah. klo suamiq dr plg menjengukku n kmbali lg k tmpt tgsnya dia slalu mampir k rmh tmn wanitanya itu (suami wanita itu tgs d luar kota jg), aq protes dg sikapnya itu, tp dia slalu marah pdq, dia bilang dia ngobrol dg mertua tmn wanitanya itu (krn mertuanya tinggal d rmh tmnnya itu). aq pengen saran dr tmn2 krn aq udah pusing n mumet, ap hal ini msh d tahap wajar? apakh aq yg trlalu cemburuan? apa yg harus aq lakukan? aq skr lg bnr2 butuh bantuan, terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

